Dinamika Tarekat Tijaniyah di Pesantren Darussalam: Akulturasi Tarekat dan Dakwah di Brebes
Keywords:
Tarekat Tijaniyah, Pesantren Darussalam, akulturasi Tasawuf, kepemimpinan spiritual, dakwah adaptif.Abstract
Tarekat Tijaniyah, sebuah ordo Sufi yang berasal dari Afrika Utara, telah menunjukkan perkembangan yang signifikan di Indonesia. Penelitian ini mengkaji keberadaan unik Tarekat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darussalam, Jatibarang, Brebes, dengan fokus pada dinamika akulturasi ajarannya dalam konteks lokal serta strategi dakwah yang diterapkan. Isu utama yang diangkat adalah bagaimana sebuah Tarekat yang memiliki wirid wajib yang ketat dapat beradaptasi dan mengakomodasi praktik-praktik dari Tarekat lain (seperti: Wirdul Latif, Ratib Attas dan Ratib Haddad) dalam penyebarannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: (1) observasi partisipan langsung terhadap berbagai ritual dan kegiatan Tarekat Tijaniyah di pesantren; (2) wawancara mendalam dengan Muqaddam (pemimpin Tarekat), santri dan pengikut setia; serta (3) studi pustaka terhadap literatur primer dan sekunder terkait Tasawuf dan Tarekat Tijaniyah. Kerangka teoritis penelitian ini merujuk pada pemikiran Aboebakar Atjeh tentang Tasawuf sebagai upaya pembersihan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan Martin van Bruinessen mengenai peran sentral Mursyid atau Muqaddam dalam institusi pesantren dan Tarekat. Teori ini digunakan untuk menganalisis peran kepemimpinan spiritual Syekh Soleh Basalamah dan proses sistematis pendekatan sufistik dalam Tarekat. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Tarekat Tijaniyah di Pesantren Darussalam tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang pesat karena pendekatannya yang fleksibel dan inklusif. Berbeda dengan praktik umum di banyak negara, tarekat ini di Brebes mengakomodasi amalan-amatan dari Tarekat Alawiyah, menunjukkan proses akulturasi yang unik. Kepemimpinan Muqaddam dari garis keturunan Basalamah terbukti efektif dalam menjaga otentisitas ajaran sekaligus merangkul masyarakat melalui berbagai kegiatan rutin (harian, mingguan, bulanan dan tahunan) yang masif. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan Tarekat Tijaniyah di Jatibarang tidak lepas dari kombinasi antara kharisma pemimpin, strategi dakwah yang adaptif dan kemampuan melakukan sintesis budaya-spiritual tanpa mengorbankan inti ajarannya.